Aksylo Docs

Perbandingan

Tunai vs QRIS untuk Bisnis Kecil

Tunai tidak dikenakan biaya transaksi tetapi menuntut kembalian, penghitungan laci, dan penyimpanan uang fisik. QRIS masuk langsung ke rekening dan tercatat rapi, tetapi dipotong biaya dan bergantung pada sinyal. Untuk hampir semua toko di Indonesia jawabannya bukan memilih salah satu melainkan menyediakan keduanya, karena porsi pemakaiannya berbeda jauh antar lokasi dan antar jam.

Diperbarui 19 Agustus 2026 · 1 menit baca

Di halaman ini

Perbandingan langsung

TunaiQRIS
Biaya transaksiTidak adaAda, dipotong penyedia
Uang diterimaSeketikaMenyusul saat settlement
KembalianPerlu disiapkanTidak perlu
PencatatanManual, rawan selisihOtomatis dan bisa dicocokkan
Risiko fisikHilang, palsu, salah hitungTidak ada
Saat sinyal matiTetap jalanTerganggu

Baris pertama membuat tunai terlihat lebih murah, dan itu menyesatkan. Biaya tunai memang ada, hanya tidak berbentuk potongan: waktu menghitung laci, selisih yang tidak ketemu, dan uang yang harus disetorkan ke bank.

Menghitung biaya tunai yang tersembunyi

Contoh: biaya nyata di balik tunai

Menghitung dan merekonsiliasi laci 15 menit per shift, dua shift sehari.

30 menit × 26 hari = 13 jam sebulan yang dibayar sebagai gaji.

Ditambah selisih kecil yang tidak ketemu, rata-rata Rp90.000 sebulan. Untuk toko dengan omzet tunai Rp40.000.000, itu setara sekitar 0,5% — tidak jauh dari potongan non-tunai.

Kapan salah satu lebih masuk akal

  • Tunai lebih baik untuk transaksi kecil berulang dan lokasi dengan sinyal buruk.
  • QRIS lebih baik untuk transaksi besar, jam ramai, dan toko yang ingin mengurangi uang fisik.
  • Sediakan keduanya, lalu baca porsinya di laporan pembayaran sebelum mengambil kesimpulan tentang pelanggan.
  • Sediakan juga pembayaran terpisah untuk pembeli yang saldonya kurang.