Glosarium
Apa itu Konsinyasi?
Konsinyasi adalah menitipkan barang untuk dijual, dengan pembayaran ke pemilik barang hanya atas yang benar-benar terjual. Bedanya dengan pembelian putus terletak pada siapa menanggung risiko: pada konsinyasi, barang yang tidak laku dikembalikan, sehingga toko tidak mengunci modal. Harganya adalah margin yang lebih tipis dan pencatatan yang lebih rumit, karena stok titipan harus dipisahkan dari stok milik sendiri.
Di halaman ini
Konsinyasi vs beli putus
| Konsinyasi | Beli putus | |
|---|---|---|
| Modal toko | Tidak keluar di awal | Keluar saat membeli |
| Risiko tidak laku | Pemilik barang | Toko |
| Margin toko | Lebih tipis | Lebih tebal |
| Pencatatan | Perlu dipisah | Sama seperti stok lain |
Konsinyasi menarik untuk barang baru yang belum terbukti dan barang bernilai tinggi. Ia kurang masuk akal untuk barang cepat laku dengan margin tipis — di sana toko menyerahkan sebagian margin untuk risiko yang sebenarnya kecil. Menilainya lebih tepat lewat profitabilitas produk, bukan lewat marginnya sendirian.
Yang wajib dicatat
- Jumlah yang diterima dan tanggalnya.
- Jumlah yang terjual, per periode bagi hasil.
- Jumlah yang dikembalikan, dengan bukti serah terima.
- Sisa yang masih di rak saat periode ditutup — lihat menjual barang konsinyasi.
Contoh: kenapa pencatatan terpisah penting
Toko menerima 60 unit titipan, terjual 41, dikembalikan 15. Sisa seharusnya 4.
Saat stock opname, fisik hanya 1 unit.
Tanpa catatan terpisah, selisih 3 unit itu bercampur dengan selisih stok milik sendiri, dan bagi hasilnya menjadi perdebatan yang tidak bisa diselesaikan siapa pun.