Glosarium
Apa itu Laba Bersih?
Laba bersih adalah sisa uang setelah seluruh biaya dikurangkan dari omzet: harga pokok penjualan dan biaya operasional seperti sewa, gaji, dan listrik. Ia adalah satu-satunya angka yang benar-benar menjadi hasil usaha, dan karenanya ukuran paling jujur atas kesehatan bisnis. Usaha bisa punya omzet besar dan laba kotor sehat tetapi tetap merugi kalau biaya operasionalnya terlalu berat.
Di halaman ini
Rumusnya, langkah demi langkah
Perbedaannya dengan laba kotor terletak pada lapisan kedua. Laba kotor hanya memperhitungkan biaya yang menempel pada barang terjual; laba bersih memperhitungkan seluruh biaya menjalankan usaha, termasuk yang tetap harus dibayar saat toko sepi.
Contoh: kedai kopi satu bulan
Omzet Rp 62.000.000 · HPP Rp 18.600.000 (30%) → laba kotor Rp 43.400.000.
Biaya operasional: sewa Rp 9 juta · gaji Rp 18 juta · listrik & internet Rp 2,8 juta · lain-lain Rp 3,2 juta = Rp 33.000.000.
Laba bersih Rp 10.400.000, margin bersih 16,8%.
Yang sering membuat angkanya keliru
- Biaya pribadi tercampur — belanja rumah tangga masuk kas usaha membuat laba bersih tidak berarti apa-apa.
- Biaya tidak rutin diabaikan — servis alat, THR, dan promosi tetap biaya; catat di bulan terjadinya.
- Gaji pemilik tidak dihitung — kalau kamu bekerja penuh di usaha itu, laba bersih tanpa gajimu terlihat lebih besar dari kenyataan.
- Barang hilang tidak dicatat — lihat penyusutan stok.
Membaca sebagai persentase
Margin bersih (laba bersih ÷ omzet) memudahkan membandingkan antar periode dan antar outlet, karena tidak terpengaruh besar-kecilnya volume. Cara menyusun laporannya ada di laporan laba.
Di Aksylo
Aksylo menghitung HPP otomatis dan menyediakan pencatatan biaya operasional, sehingga laba bersih tersusun dari data transaksi yang sama — bukan dari rekap terpisah di akhir bulan.