Pembayaran · Konsep
Biaya Transaksi Pembayaran Non-Tunai
Pembayaran non-tunai dikenakan biaya oleh penyedia layanan, dipotong dari nilai yang diterima merchant. Persentasenya kecil per transaksi, tetapi karena dihitung dari omzet dan bukan dari laba, dampaknya terhadap margin jauh lebih besar daripada angkanya. Pada produk bermargin tipis, biaya transaksi bisa memakan bagian yang berarti dari keuntungan tiap penjualan.
Di halaman ini
Kenapa dampaknya lebih besar dari angkanya
Biaya dihitung dari nilai transaksi, sementara yang menjadi milik toko hanyalah marginnya. Potongan yang terdengar kecil terhadap harga jual bisa berarti bagian yang jauh lebih besar terhadap laba — dan semakin tipis marginnya, semakin besar bagiannya.
Contoh: dua produk, potongan sama
Produk margin tebal: jual Rp30.000, margin Rp18.000. Biaya 0,7% = Rp210 → 1,2% dari laba.
Produk margin tipis: jual Rp30.000, margin Rp1.500. Biaya sama Rp210 → 14% dari laba.
Potongannya identik. Bagi produk kedua, itu sebagian nyata dari keuntungan yang tersisa.
Cara memperlakukannya
- Masukkan ke biaya operasional sebagai kategori administrasi, bukan diabaikan.
- Perhitungkan saat menetapkan harga menu atau harga jual.
- Jangan membebankannya ke pembeli dengan cara yang tidak diperbolehkan aturan penyedia.
- Bandingkan biaya antar penyedia kalau porsi non-tunai sudah besar.
Yang perlu diperiksa berkala
Nilai yang benar-benar masuk rekening biasanya sudah dipotong biaya, sementara laporan pembayaran mencatat nilai kotor transaksi. Selisih keduanya adalah biaya — dan mencocokkannya setiap bulan adalah cara paling sederhana memastikan potongannya sesuai kesepakatan.
Besaran biaya ditetapkan oleh penyedia pembayaran dan bisa berubah. Angka pada contoh di atas hanya ilustrasi perhitungan, bukan tarif yang berlaku.