Inventory · Konsep
Stok Menipis dan Peringatannya
Stok menipis (low stock) adalah kondisi ketika jumlah stok berada di bawah ambang minimum yang ditetapkan. Ambang itu — sering disebut reorder point — dihitung dari kecepatan penjualan dan lama waktu restock: rata-rata penjualan harian × waktu tunggu supplier, ditambah stok pengaman. Sistem yang memantau ambang ini memberi peringatan sebelum barang laris benar-benar habis.
Di halaman ini
Biaya dari kehabisan stok
Kehabisan barang laris merugikan dua kali: penjualan hari itu hilang, dan pelanggan belajar bahwa tokomu "suka kosong". Di F&B lebih buruk lagi — satu bahan habis bisa mematikan beberapa menu sekaligus di jam ramai. Lawannya juga mahal: menumpuk stok "biar aman" mengunci kas dan menaikkan risiko kedaluwarsa.
Rumus reorder point sederhana
Reorder point = (penjualan harian rata-rata × lead time supplier) + stok pengaman. Lead time adalah jarak hari antara memesan dan barang tiba; stok pengaman menutupi lonjakan tak terduga — praktisnya 20–50% dari kebutuhan selama lead time.
Contoh: minyak goreng 1L
Terjual rata-rata 8 botol/hari · lead time supplier 3 hari · stok pengaman 1 hari penjualan.
Reorder point = (8 × 3) + 8 = 32 botol. Saat stok menyentuh 32, buat purchase order — bukan saat rak sudah kosong.
Menerapkannya tanpa rumit
- Mulai dari 20% barang yang menyumbang 80% penjualan — tidak semua SKU perlu ambang di hari pertama.
- Ambil angka penjualan harian dari laporan sistem inventory, bukan ingatan.
- Tinjau ambang tiap beberapa bulan — pola penjualan berubah (musim, promo, tren).
- Di F&B, pasang ambang di bahan, karena bahanlah yang habis — lihat stok bahan baku.
Di Aksylo
Aksylo menandai varian dan bahan yang berada di bawah ambang minimum sehingga daftar belanja tersusun dari data — tersambung langsung ke supplier dan purchase order di mode Retail.