Pembayaran · Dokumentasi
Mengelola Laci Kasir
Laci kasir dikelola dengan tiga aturan sederhana: modal awal yang tetap dan tercatat, pecahan kecil yang cukup untuk kembalian sepanjang shift, dan setoran berkala agar uang tidak menumpuk. Modal awal yang berubah-ubah membuat hitungan akhir shift tidak bisa dipercaya, sementara kekurangan pecahan memaksa kasir membulatkan — dan pembulatan yang berulang menjadi selisih yang tampak seperti kehilangan.
Di halaman ini
Menentukan modal awal
Modal awal cukup untuk melayani kembalian sampai penjualan tunai mulai mengisi laci sendiri — biasanya satu sampai dua jam pertama. Angkanya ditetapkan sekali dan dipakai setiap hari, karena modal yang berubah-ubah membuat perbandingan antar hari kehilangan artinya.
Contoh: susunan modal Rp500.000
Rp2.000 × 25 = Rp50.000 · Rp5.000 × 20 = Rp100.000 · Rp10.000 × 15 = Rp150.000 · Rp20.000 × 10 = Rp200.000.
Yang menentukan bukan totalnya melainkan susunannya. Rp500.000 dalam bentuk lima lembar seratus ribu praktis tidak berguna untuk kembalian.
Susunan ini disesuaikan dengan harga barang yang paling sering dibeli.
Jangan biarkan menumpuk
- Setorkan sebagian saat laci sudah jauh melebihi kebutuhan kembalian.
- Simpan setoran di tempat terpisah, bukan di laci bagian bawah.
- Pertimbangkan porsi non-tunai; lihat tunai vs QRIS.
- Catat setiap setoran agar hitungan akhir shift tetap cocok.
Yang tidak boleh ada di laci
- Uang pribadi kasir atau pemilik.
- Uang untuk belanja operasional — gunakan kas kecil terpisah.
- Catatan utang atau nota yang menggantikan uang.
- Uang muka pesanan — lihat menerima uang muka.
Ketiganya membuat hitungan akhir shift tidak lagi bisa dibandingkan dengan angka yang seharusnya, dan sejak saat itu setiap selisih menjadi tidak bisa dijelaskan.