Inventory · Konsep
COGS / HPP: Harga Pokok Penjualan
COGS (Cost of Goods Sold) atau HPP (Harga Pokok Penjualan) adalah biaya langsung dari produk yang terjual: harga beli barang di retail, atau biaya bahan sesuai resep di F&B. HPP tidak termasuk biaya operasional seperti sewa dan gaji. Rumus dasarnya: laba kotor = omzet − HPP; karena itu HPP yang akurat adalah syarat mengetahui laba yang sebenarnya.
Di halaman ini
Apa yang masuk HPP, apa yang tidak
| Masuk HPP | Bukan HPP (biaya operasional) |
|---|---|
| Harga beli barang yang terjual | Sewa tempat |
| Bahan baku sesuai resep | Gaji staf |
| Kemasan yang melekat pada produk | Listrik, air, internet |
| Pemasaran dan promosi |
Garis pemisahnya: HPP hanya bertambah kalau ada yang terjual. Sewa harus dibayar meski toko sepi; harga beli barang baru menjadi biaya saat barangnya benar-benar terjual. Pemisahan ini yang membuat laporan bisa membedakan laba kotor dari laba bersih.
HPP di retail vs di F&B
- Retail — HPP per produk = harga beli varian itu. Terjual 3 Aqua 600 ml dengan harga beli Rp 3.200 → HPP Rp 9.600.
- F&B — HPP per menu = jumlah biaya bahan sesuai resep, memakai harga rata-rata bahan. Inilah yang di dunia F&B disebut food cost.
Contoh: laba kotor sebulan
Omzet Agustus: Rp 90.000.000 · HPP barang terjual: Rp 58.500.000 (65%).
Laba kotor = Rp 31.500.000 (margin kotor 35%). Setelah biaya operasional Rp 22.000.000, laba bersih Rp 9.500.000.
Kenapa HPP sering salah hitung
- Harga beli berubah-ubah tetapi HPP dihitung dari harga lama.
- Barang hilang/rusak tidak tercatat, sehingga HPP terlihat lebih rendah dari kenyataan — lihat penyusutan stok.
- F&B tanpa resep tertulis: HPP ditebak per menu, bukan dihitung.
Di Aksylo
Aksylo menghitung HPP otomatis: dari harga beli varian di retail, dan dari resep dengan harga rata-rata bahan di F&B. Laporan menampilkan omzet, HPP, laba kotor, dan — dengan pencatatan biaya — laba bersih.